KAHMI Dirikan Partai Politik



Munas KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) mendatang (17-18/11/2017) dibayangi dua isu utama lembaga alumni HMI tersebut. Pertama, dukungan KAHMI untuk Jokowi setelah penobatan Lafran Pane sebagai pahlawan nasional. Isu kedua, KAHMI akan membidani lahirnya sebuah parpol modern. Kedua isu ini akan membawa KAHMI dalam arus utama politik nasional, tentu akan banyak penolakan sekaligus mendukung.

Isu pertama barangkali tidak begitu mengejutkan, mengingat banyak alumni yang menjadi tim pemenangan hingga menjadi menteri dikabinet Jokowi-JK. Isu kedua terkait didirikannya partai politik oleh KAHMI. Hal ini tidak mustahil terjadi, tidak pula akan mengurangi nilai KAHMI. Setidaknya NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar di Indonesia sudah melakukannya. NU membidani PKB dan Muhammadiyah mendirikan PAN. 

Pendirian parpol oleh KAHMI tentu saja tak semulus dan tak semudah ketika NU dan Muhammadiyah mendirikan PKB dan PAN. Butuh nyali dan sikap negarawan dari alumni HMI yang selama ini telah besar di parpol masing-masing. Menyatukan visi para alumni HMI memang sulit, itu sebabnya dalam pilpres tak seorangpun alumni HMI pernah menang. Hari ini pimpinan parpol besar di Indonesia juga bukan diketuai alumni HMI.

Realitas ini menunjukkan alumni HMI semakin tidak berperan dalam perpolitikan nasional. Padahal untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah Azza Wa Jalla, tidak ada jalan lain selain berperan sebagai pengambil kebijakan. Salah satunya dengan terjun didunia politik, dan ini saat yang tepat bagi KAHMI menjadi rujukan politik nasional. Kapasitas dan integritas para petinggi KAHMI sudah tidak perlu diragukan lagi, mereka memiliki keduanya kecuali kemauan dan nyali.

Perhelatan munas KAHMI di Medan, Sumatera Utara harus menjadi momentum kebangkitan gerakan intelektual Islam. KAHMI harus menjadi pelopor dan penggerak, kehadiran partai politik yang digagas KAHMI tentu sangat dinantikan. Bila tak parpol nantinya tidak terbentuk hanya ada dua kemungkinan, pertama sulitnya menurunkan ego masing-masing dan kedua adanya pihak-pihak yang ingin mereduksi peran KAHMI.

Selama ini alumni hanya menjadi tamu diparpol masing-masing, saatnya KAHMI menjadi tuan rumah diparpol sendiri. Meskipun alumni-alumni HMI merupakan tokoh-tokoh hebat di republik ini, namun untuk urusan capres 2019 tak satupun alumni di nominasikan. Apakah KAHMI kekurangan sosok nasional dengan elektabilitas tinggi? Barangkali hanya Anas Urbaningrum seorang yang mampu bersaing sebelum karirnya dihabisi SBY.

Akbar Tanjung mantan Ketua Umum partai Golkar malah kalah ditingkat partainya sendiri. Mahfud MD hanya sebatas ketua tim pemenangan, Anies Baswedan hanya sebatas juru bicara, dan selain itu rata-rata alumni HMI hanya menjadi follower dalam kancah perpolitikan nasional. Hanya JK yang sukses dua kali menjadi wakil Presiden, JK kalah ketika mencalonkan diri sebagai Presiden (2009). Itulah mengapa parpol yang digagas alumni HMI dalam hal ini KAHMI.

Munas KAHMI harus mempertegas peran KAHMI dalam kancah perpolitikan nasional. Partai politik modern yang bebas dari korupsi, dan menjadi rujukan bagi siapapun presiden mendatang. Partai politik yang digagas KAHMI pastinya akan menjadi kekuatan baru dalam perpolitikan nasional. 
Komentar Anda

Artikel Terbaru