Senjata Pamungkas Prabowo

Sumber: Tribun
Perhelatan pilpres 2019 sepertinya tak seseru pilpres 2014, apalagi kali ini ada kandidat petahan yang ikut. Kandidat petahan bahkan didukung parpol besar yang sudah malang melintang dalam perpolitikan nasional. Tiga parpol yang lahir dari rahim orde baru ada dikubu petahan (Jokowi).

Partai Demokrat yang dianggap sebagai lawan tangguh juga sudah menyerah sebelum pluit dibunyikan. AHY digadang-gadang sebagai capres 2024, itu artinya 2019 jabatan menteri yang sedang diincarnya. Hal itu terjadi bila ayahnya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat memutuskan berkoalisi dengan Jokowi dan signal itu sudah ada.

Kini hanya menyisakan Partai Gerindra dan PKS yang secara syarat tidak dapat mencalonkan Presiden kecuali PAN mau bergabung. Zulkifli Hasan saat ini sedang "berjualan", PAN terus menjajaki kemungkinan Zulkifli Hasan menjadi cawapres. Siapapun yang mau menjadikan Zulkifli Hasan cawapres, kesitulah suara PAN akan disalurkan.

Wacana calon tunggal menguat seiring peta politik yang sangat dominan berada dikubu Jokowi. Lalu, sudah selesaikah pilpres 2019? Benarkah mustahil bagi Gerindra dan PKS mampu menyalip Jokowi ditikungan terakhir? Apakah Gerindra dan PKS pada akhirnya akan lebih fokus pada pemilu legislatif dan melupakan pilpres. Pertanyaan ini bisa dijawab Ya atau Tidak.

Koalisi Partai Gerindra dan PKS kemungkinan kembali mengusung Prabowo, elektabilitas Prabowo memang paling tinggi dibandingkan lawan-lawan Jokowi lainnya. Dahulu saat pilpres 2014, elektabilitas Jokowi 60 persen dan Prabowo hanya 27 persen namun secara perlahan elektabilitas Prabowo meningkat yang puncaknya meraih 48,66 persen dan Jokowi 51,34 persen.

Sementara hasil survei belakangan ini tak jauh beda, Prabowo masih menempel ketat elektabilitas Jokowi namun elektabilitas Jokowi tak sekuat dulu walaupun hari ini ia didukung parpol-parpol besar. Prabowo yang sudah ditinggal parpol pendukungnya pada pilpres 2014 memang harus lebih berkeringat bila ingin menjadi pemenang pada pilpres 2019. Prabowo harus mengeluarkan senjata pamungkasnya.

Batalnya deklarasi Prabowo dihari lahir Gerindra seolah membuka sedikit rahasia strategi Prabowo pada pilpres 2019. Bisa jadi Prabowo memang telah menyiapkan senjata pamungkasnya seperti saat pilkada DKI Jakarta 2017. Nama Anies yang tak diduga malah muncul dan akhirnya mengalahkan kandidat terkuat, Ahok. Hal yang sama bisa jadi kembali dilakukan Prabowo, termasuk batal mencalonkan diri dengan mengusung orang lain.

Nama Gatot-Anies yang berdasarkan survei lembaga-lembaga survei, keduanya diyakini akan mampu memberi kejutan pada Jokowi serta tak mustahil mampu mengalahkan Jokowi. Selain mereka, alternatif pasangan untuk Prabowo juga dipastikan masih mungkin mengancam posisi Jokowi. Itu artinya ada banyak senjata pamungkas Prabowo asalkan cukup syarat mengusung capres.

Satu hal yang pasti, demokrasi kita bakal mundur bila hanya ada satu calon dalam pilpres 2019. Hal itu sekaligus kegagalan partai politik dalam regenerasi maupun pengkaderan. Saat ini kita sedang menyaksikan sikap pragmatis dan oportunis parpol, politik dagang posisi sedang dilaksanakan jauh sebelum pilpres berlangsung.



Komentar Anda

Artikel Terbaru