Hanya Kecurangan Yang Bisa Kalahkan Prabowo

Source

Meski belum menentukan siapa cawapresnya, elektabilitas Prabowo terus meningkat. Salah satu indikasinya ketika wacana dan penawaran agar Prabowo menjadi cawapres Jokowi terus diberitakan. Fakta ini menunjukkan bahwa Jokowi sadar posisi paling aman baginya ialah dengan menjadikan Prabowo sebagai cawapresnya.

Usaha itu ditolak Prabowo dan pendukungnya, sebabnya peluang Prabowo menang dalam pilpres 2019 lebih besar dibandingkan 2014. Sekali Prabowo berucap di akun sosmednya, pernyataan tersebut langsung viral, baik didalam negeri maupun diluar negeri. Prabowo langsung dilabeli sebagai musuh negara adidaya; Cina dan USA.

Lawan politiknya terus melakukan manuver namun Prabowo masih tenang-tenang saja. Lawan politiknya terus melakukan pendekatan pada poros SBY dan terakhir pada Persaudaraan Alumni (PA) 212 guna mengambil suara umat Islam. Ketua Umum MUI dan Mantan Ketua MK direkrut dalam struktur lembaga yang baru dibentuk oleh lawan politiknya. Barangkali Habieb Rizieq pun sedang dalam proses dilobi. Namun Prabowo masih tenang-tenang saja, mengapa?

Bagi Prabowo, lawan terberatnya bukan Jokowi atau keluarga Cikeas. Lawan terberat Prabowo ialah kecurangan, hanya kecurangan yang dapat mengalahkan Prabowo dalam pilpres 2019. Kalau kita menelisik urgensi Perpres No 20 Tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA), salah satu yang akan diimpor ialah tenaga kerja ahli digital. Kita tahu website KPU sangat rentan diobok-obok, dan peluang terjadi kecurangan pilpres sangat terbuka.

Perpres TKA juga akan memunculkan peluang bertambahnya pemilih yang kita kenal dengan pemilih siluman. Sebelum Perpres No 20 tahun 2018 terbit, sudah banyak TKA terutama buruh yang masuk ke Indonesia, mayoritas berasal dari Cina daratan. Itu artinya peluang terjadi kecurangan pilpres sebagai implikasi Perpres No 20 Tahun 2018 sangat terbuka. Wajar bila Prabowo akan kalah dalam pilpres 2019, mengingat lawannya yang memiliki peluang melakukan kecurangan.

Hal itulah yang menyebabkan Prabowo tidak begitu antusias mencari cawpresnya. Prabowo sada siapapun cawapresnya kemenangan akan diraih asalkan tidak dicurangi. Prabowo lebih memilih fokus meminimalisir ancaman kecurangan pilpres, baginya kalah dan menang hal yang biasa asalkan tidak ada kecurangan. Prabowo tampak tak panik dan tak pula mengemis dukungan kesana kemari sebagaimana yang dilakukan lawan politiknya.

Sejatinya elektabilitas Prabowo merupakan angka pasti tanpa melakukan kampanye, bandingkan dengan lawan politiknya yang menggunakan istana negara untuk membahas pilpres, melobi Cikeas, tampak kurang percaya diri walaupun didukung mayoritas parpol. Sepertinya ia paham bahwa survei rekayasa tak begitu mempengaruhi elektabilitasnya. Kita berharap tidak terjadi kecurangan demi mengalahkan Prabowo walaupun curi start tampak sudah dilakukan.

Kekalahan Ahok tampak mempengaruhi lawan politik Prabowo untuk melakukan apapun asal Prabowo kalah. Karena begitu panik dan frustasi, Prabowo dirayu agar tidak nyapres dan menjadi king maker saja. Rayuan kedua dengan meminta Prabowo sebagai cawapres dengan dalil demi persatuan bangsa. SBY pun ditekan agar memihak pada mereka atau bermain cantik dengan mendirikan poros ketiga. Kalkulasinya, poros ketiga akan mengurangi suara Prabowo, ini kalkulasi yang salah karena Prabowo punya massa yang solid.

Poros ketiga sejatinya menguntungkan Prabowo apalagi bila cawapres yang dipilih punya elektabilitas. Saat itu terjadi, kecurangan yang terencana, terstruktur, sistematis dan masif akan dilakukan. Dan inilah yang bisa mengalahkan Prabowo dalam kontestasi pilpres 2019.

Komentar Anda

Artikel Terbaru