Kepanikan Jokowi Menghadapi Pilpres

ilustrasi
Jelang pendaftaran capres dan cawapres, Jokowi terus melakukan manuver politik. Langkah-langkah yang menunjukkan Jokowi sangat panik meskipun didukung mayoritas parpol dan incumbent. Manuver politik pertama yang dilakukan Jokowi dengan mengutus Luhut Binsar Pandjaitan menjumpai Prabowo. Setelah gagal menjadikan Prabowo Cawapres, Luhut memberi alasan yang tak logis dan memutar balikkan fakta.

Luhut mengatakan pihaknya menolak Prabowo dengan alasan permintaan Prabowo berlebihan. Beberapa media melansir permintaan yang dimaksud ialah kendali militer Indonesia. Menurutnya Prabowo meminta hal tersebut, sebuah pernyataan yang tak logis bahkan dalih karena telah dipermalukan Prabowo sehingga diumbarlah pernyataan tersebut sebagai serangan kepada Prabowo.

Setelah gagal menaklukkan Prabowo, Jokowi mengutus Wiranto menjumpai SBY sehari setelah kasus Century mulai kembali dibicarakan. Uniknya manuver Jokowi dilakukan dengan “bidak” mantan Jenderal. Dua Jenderalnya tampak belum sukses melakukan tugasnya, sehingga kepanikan masih menyelimuti Jokowi apalagi dirinya diprotes oleh baju dengan tagar 2109gantipresiden.

Manuver ke-3 yang dilakukan Jokowi ialah dengan terus mengorbitkan Gatot Nurmantyo untuk menggeser Prabowo. Dari tiga manuver tersebut, satu telah gagal yaitu menaklukkan Prabowo dengan cara memberi posisi cawapres. Menurut hitungan tim pemenangan, menjadikan Prabowo sebagai cawapres adalah langkah cerdas. Tapi strategi ini telah gagal karena Prabowo menolaknya walaupun fakta yang dihembuskan sebaliknya.

Apa yang melatarbelakangi Jokowi menjadikan Prabowo sebagai cawapres? Jokowi ingin mengalahkan Prabowo sebelum pilpres mengingat elektabilitas Prabowo yang paling tinggi dibandingkan capres lainnya. Selain itu Jokowi paham bahwa bila wapres usianya lebih tua akan mudah memimpin. Setidaknya hal itu sudah terbukti dengan menjadikan Jusuf Kalla sebagai capresnya.

Manuver kedua dengan mendatangi SBY dilatar belakangi kekalahan Ahok pada pilkada. Sangat riskan bila membiarkan SBY ikut dalam kompetisi akan tetapi tidak dipihaknya. Setidaknya hal itu terbukti dalam pilkada DKI Jakarta, akan lebih baik bila SBY abstain sebagaimana pilpres 2014. Jokowi benar-benar dalam kepanikan, hal tak bisa disembunyikan dengan dua manuver memohon belas kasihan dari dua Jenderal (Prabowo dan SBY).

Manuver terakhir yang sedang dijalankan dengan mengharapkan Gatot sebagai penantang dirinya. Meskipun Gatot belakangan ini sangat dikenal akan tetapi ia tidak memiliki basis massa sebagaimana Prabowo maupun SBY. Itu artinya relatif lebih mudah mengalahkan Gatot Nurmantyo yang tidak memiliki partai politik. Segala cara dilakukan agar Gatot dapat didukung SBY maupun Prabowo dan menjadi penantangnya.

Cukup wajar bila Jokowi panik menghadapi pilpres mendatang, selain elektabilitas yang masih dibawah 60%, Jokowi banyak melanggar janji kampanyenya. Hal itu berarti akan banyak serangan menghampirinya dan bukan mustahil akan terus menurunkan elektabilitasnya bahkan suara di TPS-TPS.

Selain manuver ke elit politik, manuver ke Umat Islam tampak mulai dijalankan. Misalnya dengan propaganda jangan jadikan mesjid sebagai sarana politik, antipolitisasi mesjid. Langkah ini guna mencegah gerakan bangkitnya umat Islam dalam percaturan politik sebagaimana yang terjadi dalam pilkada DKI Jakarta. Harus diakui umat Islam sedang terpolarisasi, dan akan terus pecah belah hingga pilpres.

Manuver selanjutnya dengan menggunakan lembaga survei. Hasilnya bisa ditebak dan cukup efektif mempengaruhi psikologis pemilih maupun donatur yang punya kepentingan jangka panjang. Hasil survei yang dirilis lembaga-lembaga survei juga digunakan untuk menekan mental lawan politiknya. Walaupun hasil survei bertujuan itu akan tetapi dirinya patut panik, sebabnya ialah pengalaman dirinya dimasa lalu, kalah di survei namun menang dipilkada dan pilpres.

Wajar bila Jokowi tetap panik walaupun hasil survei berpihak padanya. Wajar pula ia panik karena gagal menaklukan Prabowo dan belum berhasil menekan SBY untuk mendukungnya. Maka manuver terakhir yang akan digunakan ialah dengan menjadikan media massa nasional sebagai alat propganda. Selama ini cukup efektif akan tetapi rakyat kebanyakan sudah mulai paham dan cerdas sehingga tidak menelan langsung setiap informasi. Itu artinya butuh gaya baru guna mengelabui para pembaca.




Komentar Anda

Artikel Terbaru