Mengungkap Skenario Gatot Nyapres | Riwayat Politik

Thursday, April 19, 2018

Mengungkap Skenario Gatot Nyapres

Leave a Comment

Nama Jenderal Gatot tiba-tiba sangat dikenal, ia dianggap pro-islam sejak aksi umat Islam yang menuntut Ahok dipenjara dalam kasus penistaan agama. Benarkah peristiwa munculnya Gatot berlangsung secara alami? Bahkan TV nasional yang anti Habieb Rizieq sekalipun senang mewawancarai Jenderal bintang empat tersebut. Dalam politik tidak ada kebetulan, semua direncanakan dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan.

Barangkali banyak diantara kita lupa bagaimana seorang Walikota kemudian menjadi tokoh nasional, apakah itu juga kebetulan? Jelas tidak, ada skenario panjang yang disiapkan dan hasilnya terbukti pada pilpres 2014, Jokowi menang. Demikian halnya dengan Gatot Nurmantyo yang tiba-tiba begitu dikenal dan elektabilitasnya terus naik. Siapa yang menskenarionya, kita semua masih meraba dan berspekulasi akan tetapi kepada salah satu media nasional Gatot mengakui sejak lama dekat dengan salah pemain dibelakang layar, Tomy Winata.

Melalui Panglima ABRI Edi Sudrajat, Gatot dan Tomy saling kenal. Sepertinya Tomy Winata sukses menjadikan Gatot sebagai Panglima TNI, dan kasus Ahok membuatnya patut waspada sehingga perlu memunculkan tokoh alternatif bila Jokowi kalah atau tidak lagi menjabat. Maka kemunculan Gatot dalam persaingan pilpres 2019 bukanlah kebetulan saja, apalagi Tomy yang diduga kuat sebagai leader 9 naga memiliki akses ke media besar di Indonesia. Jangan heran bila kemudian Gatot terus meningkat popularitas dan elektabilitasnya.

Skenario mempopulerkan Gatot cukup berhasil, setidaknya hingga hari ini partai koalisi gerindra (PKS) sedikit ragu dengan Prabowo. Beberapa elit PKS malah meyakini bahwa tiket capres akan diberikan Prabowo kepada Gatot Nurmantyo. Kalaupun tiket capres tak didapat, setidaknya tiket cawapres menjadi harapan terakhir bagi Gatot yang dekat dengan Tomy Winata. Bila skenario ini terjadi, maka 9 naga telah menang telak. Jokowi dan Gatot sejatinya serupa tapi tak sama, namun indikasi PKS memiliki cawapres dari internalnya telah membuat Jokowi panik begitu pula dengan Tomy cs.

Planning B yang sedang disiapkan ialah dengan memaksa SBY berkoalisi mendukung Jokowi. Kasus Century cukup bagi Jokowi untuk memaksa SBY bertekuk lutut. Kalaupun tidak mendukung langsung, SBY diharuskan melahirkan poros baru yang bisa menguras suara Prabowo. Sementara untuk memaksa Megawati tak mencalonkan Puan sebagai cawapres, kasus BLBI cukup efektif kembali dimunculkan. Ini mirip dengan keterpaksaan Megawati menandatangangi surat dukungan kepada Ahok walaupun Ahok sebelumnya menganggap parpol tak penting.

Jokowi dan kubunya memang lebih takut pada Prabowo dibandingkan SBY apalagi Gatot. Sejauh ini skenario Gatot untuk tetap diporos umat Islam telah sukses. Umat Islam khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya mudah terpesona dengan orang baru yang dimunculkan media. Kehadiran Gatot diharapkan dapat menambah angka Golput yang sebelumnya benci pada Jokowi. Lebih baik membuat mereka golput dari pada mereka mendukung Prabowo, tentu saja bila skenario Gatot tak dicapreskan Prabowo maupun tak dicawapreskan.

Rilis semua lembaga survei mengatakan posisi Jokowi sebagai petahan belum pada Zona aman. Apalagi belakangan ini rakyat mulai paham dengan politik termasuk soal prestasi Jokowi yang digembar gemborkan media ternyata nol besar, salah satunya infrastruktur yang telah merenggut nyawa serta kerugian materi yang tak sedikit. Langkah memaksa SBY bergabung atau setidaknya memecah suara umat Islam dirasa perlu dilakukan selain tetap menjadikan Gatot sebagai cawapres.

Skenario terakhir yang akan dijalankan bila Gatot tak dijadikan capres atau cawapres oleh Prabowo ialah dengan menjadikannya sebagai cawapres bagi Jokowi. Skenario ini dianggap paling ideal, bahkan pengamat bayaran menganggap bila Jokowi bergandengan dengan Gatot maka pilpres telah selesai. Benarkah pilpres telah usai bila Jokowi bergandengan Gatot? Tidak ada yang pasti dalam politik apalagi ada banyak tokoh lain yang bisa menjungkirbalikan pendapat tersebut.

Kalangan sipil yang dekat dengan umat Islam serta nasionalis masih banyak. Sebut saja Mahfud MD, Din Syamsudin, maupun Rizal Ramli bahkan kader-kader PKS juga melimpah. Itu artinya Prabowo bisa saja mengambil salah satu opsi tersebut dan mengalahkan Jokowi-Gatot. Semua masih mungkin sehingga Jokowi sebagai petahan hingga hari ini belum percaya diri untuk mengumumkan siapa cawapresnya. Pengalaman pahit pilkada DKI menjadi salah satu sebabnya Jokowi tak ingin cepat-cepat mengumumkan cawapresnya.

Dalam pilkada DKI Jakarta, Ahok yang didukung banyak parpol tak berdaya menghadapi Anies yang hanya bermodalkan 3 parpol pendukung. Itu sebabnya Jokowi akan memaksa SBY untuk mendukungnya guna menambah pasukan dalam menghadapi pilpres. Jokowi benar-benar dalam situasi panik, ia ingin kepastian menang sebelum pilpres berlangsung dan SBY harus menjadi salah satu bidaknya. Sementara Prabowo yang terus ditekan dengan berbagai wacana ternyata masih tetap tenang bahkan usaha membuka komunikasi dengan parpol yang belum mendukung Jokowi pun tak dilakukan.

Prabowo sepertinya sangat siap kalah, apalagi pengalaman pernah kalah dalam dua kali perhelatan pilpres membuatnya tahu bagaimana rasanya kalah. Sementara Jokowi yang sepanjang karir politiknya selalu menang tak ingin ternodai dengan kekalahan pada pilpres 2019. Sementara bagi 9 naga, menjaga aset yang telah ada sangatlah penting. Itu sebabnya 9 naga tak ingin aksi pengusiran etnis keturunan Cina terjadi lagi. Satu-satunya cara ialah dengan menjadi donatur bagi capres. Bila Gatot gagal nyapres maka mereka harus pastikan Jokowi menang lagi.

Jika Suka dengan artikel ini, Silahkan bagikan

Post a Comment