Pilpres 2019 Tanpa Prabowo dan Jokowi

Prabowo dan Jokowi Nyaris disemua grup sosial media isu pilpres mendominasi percakapan. Saya perhatikan debat kusir tentang siapa yang...

Prabowo dan Jokowi
Nyaris disemua grup sosial media isu pilpres mendominasi percakapan. Saya perhatikan debat kusir tentang siapa yang lebih baik dan pantas memimpin Indonesia terjadi tanpa kenal waktu. Bayang-bayang perpecahan semakin nyata, ujian bernegara sedang melanda bangsa Indonesia.

Situasi ini sangat menguntungkan negara-negara yang sedang mengincar sumber daya alam Indonesia. Uang triliunan siap digelontorkan demi kemenangan dalam pilpres dengan jagoan masing-masing. Mereka akan mengambil manfaat setelah jagoan mereka menang dalam pilpres melalui regulasi yang memudahkan mereka. Kini mata mereka sedang tertuju pada dua orang yang berpotensi menjadi pemenang; Prabowo dan Jokowi.

Meskipun keduanya menyatakan tidak mendapat bantuan dari asing atau konglomerat, tidak ada jaminan tim pemenangan mereka tidak menerimanya. Mahalnya cost politik dapat menghilangkan jati diri tim pemenangan keduanya, selain untuk pemenangan kandidat capres, sebagian uang dapat menalangi biaya pileg bagi tim pemenangan yang ikut dalam pileg.

Sementara para elit sibuk membangun jaringan dan menerima uang, rakyat terutama pendukung kedua pihak sibuk dengan debat kusir. Perdebatan yang dilatar belakangi propaganda dan isu miring yang disajikan para elit. Bukan tidak mungkin aksi anarkis dan saling baku hantam akan terjadi dilapangan. Massa pendukung kedua capres siap keluarkan darah demi membela jagoannya.

Kalaupun nanti ada poros baru dari Cikeas, persoalan tetap tidak akan terselesaikan mengingat ada kelompok elit yang senang menjadikan rakyat sebagai bidak-bidak. Agitasi dan provokasi para elit yang menggunakan argumen-argumen logis dapat menyeret rakyat dalam pertempuran tak logis. Persatuan dan kesatuan bangsa dipertaruhkan, harga diri bangsa kian terdegradasi sejak tahun politik.

Kita tak lagi ramah dengan sesama padahal ramah merupakan ciri bangsa Indonesia. Kita tak lagi saling sapa hanya karena beda pilihan padahal para elit asyik tertawa karena kita termakan isu yang mereka sebarkan. Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi harusnya cerdas bersikap dan bijak bertindak. Tidak mudah dihasut apalagi oleh pencitraan dan kebohongan.

Para elit terus membungkus kandidatnya dengan berbagai pencitraan, bukan dilarang melakukan pencitraan akan tetapi jangan pula kita menjadi fanatik buta dengan pencitraan tersebut. Jokowi dan Prabowo sama-sama manusia, demikian pula dengan SBY, mereka punya potensi korup, kolusi dan nepotis. Hari ini baik, besok jahat dan sebaliknya pun demikian, kemarin jahat dan hari ini baik.

Kiranya pilpres hanyalah sebuah mekanisme dalam menentukan seorang kepala negara, harganya terlalu mahal bila harus diganjar dengan persatuan dan kesatuan bangsa. Kerukunan umat beragama juga dalam ancaman, sentimen terhadap Islam meluas, mulai dari ajaran hingga rumah ibadah umat Islam dicurigai dengan alasan yang mendiskreditkan Islam. Untung saja sebaik mayoritas umat Islam tidak terpancing umat beragama lain.

Toh setelah memiliki Presiden bangsa kita tak juga dianggap sebagai sebuah negara merdeka, lihat saja Freeport, Meikarta, Indosat, hutan, gas dan minyak bumi, semua dinikmati asing padahal amanat konstitusi mengatakan segala yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara bukan swasta apalagi asing. Pelajaran penting ini mengharuskan kita untuk jangan fanatik pada capres jagoan masing-masing.

Bila kita fanatik maka dengan mudah ditunggangi kepentingan elit, mereka merampok APBN tapi kita tidak dapat melihatnya karena fanatisme yang telah mengkarakter dalam diri kita. Bernegara bukan hanya soal pilpres, bukan hanya soal Jokowi, Prabowo, SBY, Gatot dan elit politik lainnya. Bila mereka jago bersandiwara mengapa kita mau menjadi bidak mereka, mengapa kita menghukum diri sebagai follower bukankah kita pemegang kekuasaan tertinggi. Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dilarang keras fanatik karena akan berimplikasi pada keputusan emosional yang irrasional.

Mari kita buang jauh-jauh fanatisme, kita hadirkan sikap sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang akan menentukan kemana bangsa ini akan berlabuh. Sudah saatnya bangsa ini menjadi adidaya diantara bangsa-bangsa lain, mari sudahi dominasi asing dinegeri kita dan jadilah bangsa yang merdeka. Bagaimana bila pilpres 2019 tanpa Prabowo dan Jokowi, setujukah anda?

Name

Hankam,2,Hukum,7,Humor,2,Khazanah,14,Lokal,3,Politik,85,Sejarah,1,
ltr
item
Riwayat Politik: Pilpres 2019 Tanpa Prabowo dan Jokowi
Pilpres 2019 Tanpa Prabowo dan Jokowi
https://3.bp.blogspot.com/-2C3WzSVOXVA/XBBp5VILR3I/AAAAAAAABzk/Xja7E5x-i9g2b5m7LEjcpR0AlVj3sB0-gCLcBGAs/s320/FB_IMG_15439764703941129.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-2C3WzSVOXVA/XBBp5VILR3I/AAAAAAAABzk/Xja7E5x-i9g2b5m7LEjcpR0AlVj3sB0-gCLcBGAs/s72-c/FB_IMG_15439764703941129.jpg
Riwayat Politik
https://www.donzakiyamani.com/2018/04/pilpres-2019-tanpa-prabowo-dan-jokowi.html
https://www.donzakiyamani.com/
https://www.donzakiyamani.com/
https://www.donzakiyamani.com/2018/04/pilpres-2019-tanpa-prabowo-dan-jokowi.html
true
1989973934042536615
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy