Kapan Parpol Islam Menang Pemilu dan Pilpres?

Source nomor urut parpol pemilu 2019


Jauh sebelum bangsa ini didirikan sebagai negara berdaulat, menjadi negera merdeka yang bebas melakukan kegiatan kenegaraan, umat Islam telah berperan aktif dalam kegiatan sosial politik. Kelahiran Masyumi yang saat itu disokong Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama’, Perikatan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam, yang disusul dengan bergabungnya Pesatuan Islam dan Al-Irsyad Al-Islamiyah (Noer, 1987: 49) merupakan langkah politik yang cerdas.

Sayang 3 tahun menjelang pemilu (1952) terjadi konflik internal yang mengakibatkan NU dan Persatuan Tarbiyah Indonesia (Perti)  hengkang dari Masjumi dan mendirikan parpol sendiri. Namun demikian suara Masyumi masih signifikan pada pemilu 1955 dengan raihan suara 20,9% dan jumlah kursi yang diperoleh Masjumi sama dengan jumlah kursi yang didapatkan PNI (Partai Nasional Indonesia), yaitu sebesar 57 kursi, walaupun prosentase yang diperoleh PNI lebih besar yaitu 22,3%.

Bila saja umat Islam masih bersatu dalam Masjumi tentu akan lebih besar suara yang didapat, terbukti pecahan suara Masjumi tersebar ke NU dengan 18,41% (45 kursi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dengan 2,89% (8 kursi), Perti dengan 1,28 % (4 kursi), dan Partai Politik Tarekat Islam (PPTI) dengan 0,22% (1 kursi).

Lalu bagaimana dengan sekarang? berdasarkan data KPU, pada pemilu 2014 partai berbasis Islam memiliki suara yang signifikan walaupun tidak mampu menjadi champion. Sebaran suara partai berbasis Islam yaitu PKB meraih PKB meraih suara terbesar, yakni 9,04 persen. Disusul PAN sebesar 7,59 persen, PKS sebanyak 6,79 persen, PPP mendulang suara 6,53 persen, dan PBB sebesar 1,46 persensuara terbesar, yakni 9,04 persen. Disusul PAN sebesar 7,59 persen, PKS sebanyak 6,79 persen, PPP mendulang suara 6,53 persen, dan PBB sebesar 1,46 persen.

Namun sangat disayangkan partai-partai tersebut belum mampu mengusung capres/cawapres bersama karena mereka hanya menjadi follower partai-partai besar berbasis nasionalis. Partai-partai Islam belum mampu memainkan peran strategis, belum mampu menjadi corong umat Islam dalam ranah politik. Perpecahan partai-partai Islam semakin menegaskan bahwa partai Islam belum bisa menang dalam ranah politik.

Meskipun umat Islam mayoritas akan tetapi umat Islam belum menjadi mayoritas dalam ranah politik. Perpecahan parpol Islam dengan sendirinya juga berimbas pada tokoh-tokoh Islam yang sulit duduk bersama dalam membicarakan arah bangsa Indonesia. Setiap momen politik datang, tokoh pesantren, ulama, dai, menjadi sasaran parpol. Mereka dihadirkan dalam kampanye ataupun sekedar fose bersama untuk menaikkan elektabilitas parpol maupun seorang capres/kepala daerah.

Sering kita saksikan kyai A dukung kandidat C sementara kyai B dukung kandidat D dan seterusnya. Tahun politik pertemuan-pertemuan politisi non parpol Islam malah sangat sering dilakukan dengan tokoh-tokoh Islam. dan pemilu yang akan datang dipastikan tidak capres yang diusung oleh gabungan parpol berbasis Islam. Itu artinya parpol Islam kembali menjadi follower bukan leader. 

Potensi sebagai mayoritas ternyata tidak mampu dimanfaatkan dengan efektif, masa depan parpol Islam belum akan berubah selama parpol Islam tidak mengubahnya. Saya percaya masih banyak aktivis Islam didalam tubuh parpol Islam yang menginginkan parpol Islam bersatu dalam mengusung capres. Apakah Islam kehabisan stok cendekiawan yang mampu berbuat dalam urusan negara sekaligus dakwah? jawabnya masih banyak bahkan mereka siap jika umat memanggil!!!

Komentar Anda

Artikel Terbaru