Menakar Peluang Oposisi di Indonesia


Kemenangan Tun Mahathir dalam pemilu Malaysia ternyata membawa banyak inspirasi dan obsesi pada politik Indonesia. Ada inspirasi agar oposisi di Indonesia mampu melakukan apa yang dilakukan Tun Mahathir di Malaysia, Ada pula yang terobsesi menjadi Mahathir Muhammad. Inspirasi dan obsesi tersebut tidaklah salah, sah-sah saja kita terinspirasi dan terobsesi dengan peristiwa politik di Malaysia.

Namun demikian kita tak boleh menganggap apa yang terjadi di Malaysia dengan mudah terjadi di Indonesia. Hal yang sama bisa terjadi di Indonesia apabila parpol yang tidak mendukung Jokowi bersatu dan mengusung SBY. Kemenangan Mahathir tak bisa dipungkiri karena rakyat Malaysia membandingkan masa pemerintahannya dan masa pemerintahan berkuasa. Ibarat rakyat Indonesia membandingkan masa SBY dan masa Jokowi.

Sementara mantan Presiden lain, seperti Megawati dan Habibie hanya memiliki waktu singkat sehingga bakal kalah dari Jokowi. Hanya SBY dan Soeharto yang bisa mengalahkan Jokowi bila menggunakan study perbandingan. Capres lain seperti Prabowo, Gatot, Rizal Ramli, Yusril, dan nama-nama lain yang beredar, semuanya belum pernah menjadi Presiden.

Karenanya hilangkan obsesi bahwa oposisi bakal menang mudah dalam pilpres dan pemilu 2019. Satu-satunya cara bila ingin seperti Malaysia ialah dengan mengusung SBY sebagai capres 2019. SBY belum tentu menolak, usia ternyata tak menghalangi Tun Mahathir untuk kembali berkuasa. Hal itu pula yang dapat mendorong SBY untuk ikut dalam kontestasi pilpres 2019. Modal dua periode memimpin Indonesia akan cukup bagi pemilih.

SBY adalah harapan bila ingin mengalahkan rezim sebagaimana di Malaysia. Selain SBY ada nama mantan Presiden lainnya, BJ Habibie. Meskipun kini ia tak lagi dalam lingkaran politik akan tetapi patut diajukan bila ingin seperti Malaysia. Diluar itu oposisi di Indonesia tidak bisa menggunakan cara yang sama dengan Malaysia. Itulah mengapa pemilu di Malaysia tidak bisa dikatakan sebagai gambaran pemilu di Indonesia. Selain itu sistem pemilu Indonesia dan Malaysia jauh berbeda sehingga pikiran-pikiran yang menyamakan peristiwa Malaysia sebagai gambaran pilpres 2019 adalah salah besar.

Bila oposisi di Indonesia mau mengalahkan rezim maka harus menggunakan strategi yang berbeda. Harus menggunakan isu yang berbeda, isu ekonomi makro kurang dipahami masyarakat pedesaan. Isu ideologi seperti komunis dan PKI juga mengena mengingat masih banyak politisi mengaku beragama namun gemar korupsi.

Lalu isu apa yang bisa menumbangkan rezim? Selain tokoh, faktor isu menjadi penting bila ingin menumbangkan rezim. Jokowi juga sudah menyiapkan penangkal isu-isu yang bisa menumbangkannya sehingga oposisi di Indonesia lebih berkeringat bila dibandingkan dengan oposisi di Malaysia. Oposisi di Indonesia juga harus berhadapan dengan media-media besar yang menjadi corong rezim. Itu artinya jangan terlalu berharap oposisi bisa menang di Indonesia sebagaimana oposisi di Malaysia.

Konon lagi oposisi Indonesia belum menemukan strategi jitu dan apik dalam menghadapi pemilu dan pilpres mendatang. Rezim Jokowi sampai detik masih sangat kuat dan tangguh, oposisi harus segera menemukan strategi jitu agar hasil pilpres dan pemilu bisa sama dengan Malaysia.

Komentar Anda

Artikel Terbaru