Ramadhan Bulan Perjuangan Politik | Riwayat Politik

Friday, May 11, 2018

Ramadhan Bulan Perjuangan Politik

Leave a Comment

Ada kecenderungan kesalahan kita dalam memaknai Ramadhan, kita hanya menjalankan ibadah personal. Kalaupun ada ibadah yang bersifat komunal pada dasarnya ibadah itu personal, sebut saja sedeqah, berbagi makanan berbuka, membayar zakat, maupun ibadah sejenis. Kita enggan melakukan ibadah kenegaraan seperti politik. Label buruk yang terlanjur disematkan pada politik sehingga membicarakan politik pun dianggap buruk.

Kalau kita membuka file sejarah Islam ketika Nabi memperjuangkan Islam maka akan kita temukan bagaimana Nabi dan sahabat tetap berjuang bahkan berperang ketika Ramadhan. Bila berperang yang mempertaruhkan nyawa saja dibolehkan dan pernah dilakukan Nabi serta para sahabat, konon lagi politik. Semangat perang Badar, Fathul Mekkah, perang Zallaqah, perang Yakhliz, tidak boleh padam dalam jiwa umat Islam terkhusus di Indonesia.

Ramadhan harus menjadi momen bagi umat Islam untuk kembali menjadi pemenang. Lulusan Ramadhan terbaik adalah taqwa dan seorang yang bertaqwa tidak lagi cinta dunia. Itu artinya lulusan Ramadhan yang berpolitik tidak akan gemar melakukan korupsi dan kolusi serta cinta tanah air. Bila ia seorang pemimpin maka kebijakannya akan berpihak pada rakyat bukan kepada asing apalagi konglomerat asing yang ingin kuasai aset negerinya. Bila ia seorang pemilih maka ia tidak mudah terkecoh berita pencintraan. Ia akan meneliti secara objektif.

Ramadhan harus menjadi momentum bagi umat Islam untuk rekonsiliasi dalam politik guna mengembalikan khittah politik sebagai cara mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah Azza Wa Jalla. Politik menjadi hal utama yang harus sering dibicarakan umat Islam sebelum umat Islam selalu dipolitisir, sebelum umat Islam dijadikan objek politik oleh mereka yang benci umat Islam bangkit di negeri ini.

Umat Islam harus mampu berbicara banyak dalam menentukan visi bangsa Indonesia. Umat Islam tak boleh apatis terhadap isu kekinian apalagi setiap isu kekinian akan berdampak langsung bagi keberlanjutan umat Islam. Kalau ormas Islam satu demi satu dibubarkan, bukan mustahil umat Islam nantinya bakal dibubarkan bahkan dilarang melakukan ibadahnya yang sifat syiar Islam. Setiap kegiatan umat Islam yang mengumpulkan massa akan dilarang karena bisa membahayakan, skenario ini dimulai dengan larangan membicarakan politik didalam mesjid.

Bila larangan ini diikuti dengan tindakan menangkap para ustad dan kyai yang berceramah soal politik maka dengan sendirinya umat Islam akan apatis politik, akan buta politik, dan itu sangat menguntungkan musuh-musuh Islam yang sangat tak ingin muslim bertaqwa berkuasa di negeri ini. Selama ini ruang kepemimpinan akan selalu ada bagi mereka yang mengaku Islam namun sebenarnya anti Islam, kaum munafik berlabel Islam. Mereka patuh harta dan tahta namun beringas pada rakyatnya sendiri, mereka rela mengorbankan rakyatnya demi para konglomerat.

Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an sehingga nilai-nilai Al-Qur’an harus terimplementasikan dalam kehidupan personal dan komunal. Muslim sejati tidak akan takut pada siapapun kecuali Allah Azza Wa Jalla bila ia benar. Ia tidak takut pada pemimpin dan pasukannya yang merugikan rakyat, ia tidak takut lapar, miskin, dipenjara, karena membela dan melakukan yang benar. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjangkau semua sisi kehidupan manusia termasuk politik. Itu artinya Al-Qur’an harus menjadi referensi seorang muslim dalam berpolitik.

Ketika Al-Qur’an menjadi referensi berpolitik maka dijamin kita tidak akan tersesat. Misalnya ketika ada berita yang mendiskreditkan seorang ulama, kita tidak langsung percaya karena berita yang disampaikan oleh orang-orang fasik tidaklah dapat dipercaya (Q.S.49:06). Ketika hendak melakukan korupsi disaat orang lain tidak tahu kita batal melakukannya karena Allah Azza Wa Jalla selalu mengawasi dan Maha mengetahui (Q.S.13:09).

Sebagai petunjuk hidup, Al-Qur’an bukan hanya mengurusi ibadah personal namun hal-hal yang terkait dengan kemaslhatan orang banyak pun dibahas. Terkait politik dan kekuasaan, karenanya Ramadhan harus menjadi momentum kembali ke Al-Qur’an dan menjadi bulan perjuangan politik yang sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Sejarah membuktikan pada bulan Ramdhan Kota Mekkah dibebaskan dari kaum Quraisy, dibulan Ramadhan pula Andalusia dibebaskan dari penjajahan. Kini saatnya negeri ini dibebaskan dari 9 naga, Cina, USA, dan korporat Asing.


Jika Suka dengan artikel ini, Silahkan bagikan

Post a Comment