Melawan Dungu

Dok.unsplash
Oleh Don Zakiyamani
Sebagai bangsa besar, Indonesia berkesempatan menjadi negara super power. Sayangnya potensi ini dihalangi kedunguan kita sendiri.

Dalam KBBI kata dungu didefinisikan sebagai ketumpulan berpikir, bahkan bisa dikatakan tidak berpikir meski memiliki alat pikir, bahkan alat pikir tersebut diberi Ijazah karena telah menjalani proses asah alat pikir.

Ketidakcerdasan kita tampak saat kita ingin negeri ini maju, negeri ini bermartabat, namun disaat yang sama kita tidak ingin mengganti penghambat kemajuan negara. Padahal kita kita tahu siapa penyebabnya.

Kita juga dilanda kebodohan karena masih memuja orang-orang yang tidak menepati janjinya. Kita cepat lupa dengan janji hanya karena penebar janji melaksanakan kewajiban yang lain.

Kewajiban dianggap prestasi, padahal kewajiban dan prestasi dua hal berbeda. Kita kemudian lupa bahwa tanpa prestasi saat berkuasa berarti telah gagal.

Setidaknya telah gagal dibandingkan pendahulunya, dan kembali memilihnya berarti kedunguan massif. Selanjutnya, kita akan menjadi orang-orang yang andil atas lenyapnya wibawa negara, rapuhnya ekonomi dan kejatuhan lainnya.

Sebabnya? Karena kita memilih orang-orang yang dengan sangat jelas selama ini telah membawa bangsa ini menuju kebangkrutan, kemunduran, diperparah dengan terpecahnya kita disebabkan politik.

Sebelumnya kita pernah berhadapan dengan momen politik, namun kata perpecahan sangat jauh. Selama ini, sejak 2014 kita terbelah, kita dibelah.

Kita harus bersatu melawan dungu, melawan pembodohan yang dilakukan selama ini. Jangan lagi memilih pengingkar janji dan pemecah belah bangsa.
Komentar Anda

Artikel Terbaru